image
Sri Sultan dan GKR Hemas

Solobrita.com – Sabda raja yang dikeluarkan Sri Sultan memang masih menjadi trending topik di berbagai media.

Seperti kita ketahui beberapa hari lalu ,
Sri Sultan Hamengku Bawono X mengeluarkan dua Sabda Raja, yaitu perubahan dan penghapusan gelar dirinya serta perubahan nama anak pertamanya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi. Perubahan nama putri sulungnya ini juga diikuti dengan penobatan sebagai putri mahkota.

Sultan sendiri mengakui secara implisit, bahwa perubahan nama dan strata kesultanan GKR Pembayun merupakan indikasi kuat, putrinya bakal menjadi penerus takhtanya.

Ternyata tidak semua pihak setuju dengan
titah Sultan ini. Saudara lelakinya bahkan
tidak ada yang menghadiri seremonial Sabda Raja…apakah ini pertanda akan ada konflik serius di kalangan istana ?
Ternyata penolakan sabda raja tersebut tidak hanya dari kerabat dan orang
dalam, gelombang penentangan semakin
meluas dari luar keraton.

Siapa saja yang menolak Sabda Raja
Sultan, berikut rangkumannya ,

1. Adik Sultan

image
GBPH Yudoningrat saat jumpa pers

Pengangkatan GKR Pembayun sebagai putri
mahkota dengan gelar GKR Mangkubumi, tidak pernah diharapkan oleh adik-adik Sultan. Hal tersebut diungkapkan salah satu adik Sri Sultan, GBPH Yudoningrat kepada wartawan di kediamannya saat menerima tokoh masyarakat untuk menyampaikan aspirasi terkait Sabda
Raja, Kamis (7/5).
“Ini mimpi buruk bagi kita, GKR Mangkubumi
tidak pernah kita kenal dan kita harapkan,”
katanya pada wartawan.
Dia pun meminta Sri Sultan Hamengku
Buwono X untuk menarik lagi Dawuh Raja
karena bertentangan dengan Paugeran Keraton dan Khalifatullah. Menurutnya menarik kembali Dawuh Raja merupakan hal yang biasa.
“Tidak perlu malu, ibarat orang sudah
meludah, dijilat lagi saja,” tegasnya.

2. Putri raja Surakarta

image

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, biasa
disapa Gusti Moeng, salah satu putri Raja Surakarta, Paku Buwono XII mengkritik keras keluarnya Sabda Raja.
Salah satu Sabda Raja yang menjadi perhatian besar bagi Gus Moeng adalah rencana Sultan mengubah perjanjian, antara pendiri Mataram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan.
“Itu sudah salah kaprah. perjanjian itu dibuat tahun kapan dan apa haknya Ngarso Dalem mau merevisi atau mengubah perjanjian leluhur.
Itu sudah salah kaprah tentunya, yang
bikin perjanjian siapa yang mengubah siapa,” ujar Gus Moeng , Kamis (7/5).

Menurut Goes Moeng, Sri Sultan yang pernah belajar hukum dan adat keraton harusnya paham mengenai Paugeran. Namun dengan keluarnya Sabda Raja yang salah satu isinya akan mengubah perjanjian pendiri Mataram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan, Sri Sultan dinilai tidak paham hukum dan adat keraton.

3. Abdi dalem

image
Kardi , abdi dalem mengembalikan gelar kekancingan

Dari kalangan abdi dalem pun sudah ada yang terang-terangan menolak sabda raja tersebut.
Adalah Kardi, seorang Abdi Dalem Keraton
Ngayogyakarta mengembalikan surat Kekancingan, lantaran kecewa dengan penghapusan gelar Khalifatuloh yang ditetapkan dalam Sabda Raja.
Surat kekancingan tersebut berisi nama gelar yaitu Mas Wedana Nitikartya yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono X pada 31 Agustus 2011 lalu.
“Saya mengembalikan gelar ini karena saya
kecewa dengan pergantian gelar Sultan,”
katanya sebelum menyerahkan surat
Kekancingan tersebut kepada GBPH
Condroningrat di rumah GBPH Yudoningrat,
Kamis (7/5).

Dia menilai pergantian gelar dan nama Sultan sudah menyalahi perjanjian Giyanti dan melenceng dari sejarah. Akibatnya Sultan yang sekarang bukanlah Raja yang sah.
“Dengan penghapusan gelar tersebut, berarti Sultan yang sekarang tidak sah karena namanya tidak sesuai dengan perjanjian Giyanti,” ujar mantan Kepala Kejaksaan Negeri Yogyakarta tersebut.

4. Kiai Yogyakarta
Tokoh agama Islam di Yogyakarta, Kiai Muhaimin angkat bicara terkait Sabda Raja yang dikeluarkan Sultan. Menurutnya, hilangnya gelar khalifatullah bisa berpengaruh terhadap kerajaan Islam ini.
“Khalifatullah adalah puncak hierarki Islam,
kalau Mataram Islam kehilangan itu, apa
jadinya,” katanya.
Dia melihat bahwa pengangkatan putri
mahkota yang diprediksi akan menjadi raja,
bukan semata-mata karena soal gender, tetapi juga soal suksesi dan kekuasaan.
“Bukan soal gender, saya ini mentor gender di pondok pesantren, jadi saya tahu. Tapi begini, kita ingin mendapatkan pemimpin yang terbaik, dan perempuan pun bisa mendapat peran yang sangat baik meskipun tidak menjadi pemimpin dan imam,” terangnya.

Tentu saja ini bukan main-main, walaupun memang itu hak prerogratif Sri Sultan sebagai raja , tapi jika itu ditentang oleh kelurga dan kerabatnya sendiri efeknya bisa dasyat , belum lagi kalau nanti rakyat Yogya juga berbondong-bondong menolak sabda raja tersebut.
Artinya Sri Sultan harus bertindak cepat mengatasi masalah ini, jangan sampai kepercayaan rakyat akan pudar hanya karena mementingkan kepentingan sendiri.

Seperti yang diprediksi banyak pihak , pengangkatan GKR Pembayun menjadi putri mahkota , tentunya dia berpeluang kuat sebagai penerus Sultan kelak..dan faktanya Sultan memang tidak mempunyai anak laki-laki.

Bagaimana menurut anda ?

Library : merdeka

Iklan