image
Pembayun diangkat menjadi putri mahkota

Salam Indonesiaku – Kabar mengejutkan datang dari kota gudeg Yogyakarta, tepatnya dari dalam istana atau keraton Ngayogjakarto Hadiningrat.

Munculnya Sabda Raja kedua yang dikeluarkan Sri Sultan Hamengku Bawono
X yang berisi penggantian nama putrinya GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi dan sekaligus menunjuknya sebagai putri mahkota dianggap tidak sesuai dengan tradisi dan Paugeran Keraton Yogyakarta. Namun hal tersebutlah dinilai bukan masalah lantaran Sultan sebagai raja memiliki hak untuk melakukan perubahan.

Hal tersebut diungkapkan Widi Hasto koordinator Sekretariat Bersama Keistimewaan Yogyakarta pada merdeka.
“Berdasarkan Sabdo Tomo 2012 Mataram
adalah negara merdeka yang memiliki aturan sendiri, bukan negara modern yang ada parlemennya. Kalau dalam sistem monarki Sabda Raja adalah hukum tertinggi, apapun itu Sabda Pandito Ratu adalah kewenangan Sultan,” katanya.
Namun Sutan harus menjelaskan ke Rakyat mengenai masalah ini, supaya tidak hilang kepercayaan masyarakat.

Karena dengan diangkatnya Pembayun menjadi putri mahkota berarti memang nantinya akan ada raja perempuan di Yogyakarta, karena seperti kita ketahui bersama, Sri Sultan tidak mempunyai anak laki-laki sebagai penerus pada umumnya

Dia melihat arah dari Sabda Raja yang dikeluarkan Sultan mengarah pada penunjukan GKR Pembayun sebagai penerus Sultan sebagai raja Keraton Yogyakarta.
Dia menilai tidak ada kesalahan dalam penunjukan tersebut karena memang hak Sultan untuk menentukan siapa penerusnya.
“Kecuali memang Sultan tidak menunjuk
penggantinya, maka akan ada rapat keluarga .Ini sama seperti yang dilakukan Sultan Hamengku Buwono IX menunjuk Sultan Hamengku Buwono X sebagai penerusnya,” ujarnya.

Terkait bagaimana rakyat Yogyakarta melihat perubahan tersebut dia menyerahkan sepenuhnya pada masing-masing orang.
Namun dia berkeyakinan jika penentuan
penerus Sri Sultan Hamengku Buwono X
adalah mutlak hak Sultan sendiri.
“Saya tidak dalam kapasitas menentukan sikap orang harus bagaimana, tapi silakan masing- masing bersikap seperti apa, tidak masalah,” tandasnya.

Sri Sultan Hamengku Buwono X sendiri
mengeluarkan Sabda Raja, Kamis lalu (30/4)  5 poin dalam Sabda Raja tersebut yaitu
1. Pergantian nama Sri Sultan Hamengku Buwono menjadi Sri Sultan Hamengku Bawono.
2. Gelar Sultan tentang Khalifatullah dihapuskan.
3. Penyebut kaping sedasa diganti kaping
sepuluh.
4. Mengubah perjanjian antara pendiri Mataram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan.
5. Menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.

Iklan